Header Ads

PWS dan Pujakesuma, Dua Kekuatan Organisasi Perantau di Sumatera Utara


Di Sumatera Utara, terdapat dua organisasi kekerabatan dan budaya yang memiliki pengaruh cukup besar di tengah masyarakat, yakni Paguyuban Wargi Sunda (PWS) dan Paguyuban Keluarga Besar Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma). Kedua organisasi ini menjadi wadah silaturahmi bagi masyarakat perantau keturunan Sunda dan Jawa yang telah lama bermukim di berbagai daerah di Sumatera.

Baik PWS maupun Pujakesuma memiliki jaringan organisasi yang luas hingga tingkat kabupaten, kecamatan, bahkan desa dan kelurahan. Struktur organisasi yang kuat membuat keduanya mampu menjangkau anggotanya secara langsung melalui berbagai kegiatan sosial, budaya, pendidikan, dan kemasyarakatan.

Dalam setiap momentum politik, khususnya pemilihan kepala daerah (pilkada), keberadaan kedua organisasi ini sering menjadi perhatian para kandidat. Hal ini tidak terlepas dari besarnya populasi masyarakat keturunan Jawa dan Sunda di Sumatera Utara yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Langkat, hingga kawasan Tanah Karo.

Paguyuban Wargi Sunda Sumatera Utara merupakan organisasi yang mewadahi warga perantau asal Jawa Barat. Berdiri sejak 27 Juni 1936, organisasi ini aktif menjaga tali persaudaraan sekaligus melestarikan budaya Sunda di Tanah Deli. Berbagai kegiatan budaya rutin digelar, mulai dari pertunjukan musik tradisional, tari-tarian Sunda, hingga kesenian Sisingaan yang menjadi ciri khas masyarakat Sunda.

Selain bergerak di bidang budaya, PWS juga aktif dalam kegiatan sosial. Organisasi ini kerap menyelenggarakan santunan anak yatim, donor darah, bantuan kemanusiaan, serta berbagai program sosial yang melibatkan masyarakat luas. Melalui kegiatan tersebut, PWS berupaya memperkuat kontribusi warga Sunda terhadap pembangunan sosial di Sumatera Utara.

Sementara itu, Pujakesuma merupakan organisasi masyarakat Jawa terbesar di Sumatera. Organisasi ini didirikan pada 10 Juli 1980 di Medan sebagai wadah bagi keturunan masyarakat Jawa yang lahir dan besar di Sumatera. Kehadiran Pujakesuma berakar dari sejarah panjang migrasi pekerja Jawa ke perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur sejak masa kolonial.

Dengan struktur organisasi yang menjangkau hingga tingkat ranting desa dan kelurahan, Pujakesuma berkembang menjadi salah satu organisasi kekerabatan terbesar di Sumatera Utara. Selain melestarikan budaya Jawa, organisasi ini juga aktif dalam bidang pendidikan, ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Besarnya jumlah anggota serta luasnya jaringan organisasi membuat Pujakesuma memiliki pengaruh sosial yang cukup signifikan. Tidak mengherankan apabila berbagai tokoh politik, pejabat daerah, maupun calon kepala daerah sering menjalin komunikasi dengan organisasi ini untuk menyerap aspirasi masyarakat.

Meski berasal dari latar budaya yang berbeda, PWS dan Pujakesuma memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga identitas budaya leluhur sekaligus memperkuat integrasi sosial di Sumatera Utara. Keduanya menjadi contoh bagaimana komunitas perantau dapat tetap mempertahankan akar budayanya tanpa meninggalkan semangat kebangsaan dan kebersamaan.

Di tengah masyarakat Sumatera Utara yang multikultural, keberadaan PWS dan Pujakesuma menunjukkan bahwa organisasi berbasis budaya masih memiliki peran penting sebagai perekat sosial, penjaga tradisi, sekaligus mitra pemerintah dalam pembangunan daerah.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.